Minggu, 16 September 2012

kbk


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri manusia itu sendiri serta selain itu pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi dan karakter manusia. Kemudian, pada satu fokus yang lebih khusus yaitu pendidikan formal, manusia diberikan dasar-dasar pengetahuan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan menghadapi kenyataan hidup dimana didalam pendidikan formal dalam hal ini adalah sekolah menjadi suatu jenjang yang mungkin memang sudah selayaknya dilalui dalam proses kehidupan manusia. Kemudian dalam pendidikan sekolah itu, manusia juga selain melatih kedewasaan juga mengasah intelektualitasnya dan kompetensinya dalam tanggung jawab dan kesadaran.
Kurikulum berbasis kompetensi lahir ditengah-tengah adanya tuntutan mutu   pendidikan di indonesia. Banyak kalangan yang berpendapat bahwa mutu pendiddikan di indodesia semakin hari semakin terpuruk. Bahkan dengan negara-negara tetangga  yang dulunya belajar di indonesia, seperti malaysia, indonesia tertinggal dalam hal mutu pendidikan. Pendidikan di indonesia di anggap hanya melahirkan lulusan yang akan menjadi beban negara dan msyarakat, karena kurang ditunjung dengan kompetensi yang memadai ketika terjun dalam masyarakat. Untuk merespon hal tersebut, pemerintah melalui departemen pendidikan nasional menawarkan kurikulum yang dianggap mampu menjawab problematika seputar rendahnya mutu pendidikan dewasa ini. Yaitu dengan mengganti kurikulum 1994 dengan kurikulum yang berbasis kempetensi (KBK). Karena dalam kurikulum berbasis kompetensi merupakan suatu paradigm baru dalam system pembaharuan kurikulum pendidikan disekolah. kurikulum berbasis kompetensi dimunculkan dengan harapan agar lulusan sekolah mampu menjadi lulusan yang memiliki keterampilan sehingga dia mampu hidup kapan dan dimanapun berada, selain itu kurikulum berbasis kompetensi merupakan suatu kebijakan pemerintah untuk memberikan kebebasan pengelolaan pendidikan atau demokratis pendidikan.
A.    Rumusan Masalah.
1.   Apa pengertian dari kurikulum berbasis kompetensi (kbk)?
2.   Bagaimana karakteristik kurikulum berbasis kompetensi tersebut?
3.   Bagaimana implementasi kurikulum Berbasis kompetensi?
4.   Bagaimana Pengembangan kurikulum Berbasis kompetensi?

B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari  kurikulum berbasis kompetensi
2.      Untuk mengetahui kareakteristik kurikulum berbasis kompetensi
3.      Untuk mengetahui implementasi kurikulum Berbasis kompetensi
4.      Untuk mengetahui Pengembangan kurikulum Berbasis kompetens













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian kurikulum berbasis kompetensi
Untuk memahami tentang pengertian kurikulum berbasis kompetensi (KBK) ini, perlu dikemukakan terlebih dahulu pengertian dari kompetensi itu sendiri, Surat Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Perguruan Tinggi mengemukakan “Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Dengan demikian kompetensi merupakan indikator yang menunjuk kepada perbuatan yang dapat diamati, dan sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh.
Kompetensi dikembangkan untuk memberikan dasar keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan,pertentangan,ketidakmenentuan,ketidakpastian dan kerumitan-kerumitan dalam kehidupan. Kompetensi dasar ini terdiri dari 4 kompetensi berikut :
·         Kompetensi akademik, Artinya peserta didik harus memilki pengetahuan dan keterampilan dalam mengatasi tantangan dan persoalan hidup secara idependen.
·         Kompetensi okupasional, artinya peserta didik Harus memilki kesiapan dan mampu beradaptasi terhadap dunia kerja.
·         Kompetensi cultural, artinya peserta didik harus mampu menempatkan diri sebaik-baiknya dalam system budaya dan tata nilai masyarakat yang pluralistic
·         Kompetensi temporal, artinya peserta didik tetap eksis dalam menjalani kehidupan, serta mampu memanfaatkan ketiga kemampuan dasar yang telah dimilki sesuai dengan perkembangan zaman.[1]
Pendapat lain menyatakan kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirirnya, Berdasarkan penjelasan diatas, maka Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. 
Puskur  (2002) menyatakan bahwa KBK merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar,serta pemberdayaan pendidikan. Batasan tersebut menyiratkan bahwa KBK dikembangkan dengan tujuan agar peserta didik memperoleh kompetensi  dan kecerdasan yang mampu dalam pembangun identitas budaya dan bangsanya. Dalam arti, melalui penerapan KBK tamatan diharapkan memiliki kompetensi atau kemampuan akademik yang baik, keterampilan untuk menunjang hidup yang memadai, pengembangan moral yang terpuji, pembentukan karakter yang kuat,kebiasaan hidup yang sehat,semangat bekerja sama yang kompak, dan apreasiasi estetika yang tinggi terhadap dunia sekitar. Berbagai kompetensi tersebut harus berkembang secara harmonis dan berimabang.[2] Kurikulum ini berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat diwujudkan sesuai dengan potensi dan kebutuhannya.[3]
Dalam KBK, proses pembelajaran difokuskan pada pemerolehan kompetensi-kompetensi oleh peserta didik. Oleh sebab itu,  kurikulum ini mencakup sejumlah kompetensi, dan seperangkat tujuan pembelajaran yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu kriteria keberhasilan.


B.     Karakteristik dan Tujuan KBK
Dari uraian tentang pengertian KBK, kita dapat menangkap dua makna yang tersirat. Pertama, KBK mengharapkan adanya hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan kedua, KBK memberikan peluang pada siswa sesuai dengan keberagaman yang dimiliki masing-masing. Makna pertama mengandung pengertian dalam KBK siswa tidak sekedar dituntut untuk memahami sejumlah konsep, akan tetapi bagaimana pemahaman konsep tersebut berdampak terhadap perilaku dan pola piker sehari-hari . inilah hakikat pengalaman belajar yang bermakna( meaning full learning), yaitu bahwa pengembangan kompetensi di arahkan untuk member keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam masyarakat yang cepat berubah, penuh persaingan dan tantangan, penuh ketidakpastian dan ketidakmenentuan. Dalam konteks pembelajaran yang bermakna,Proses pembelajaran disekolah harus menjadi pengalaman bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan belajarnya di masyarakat. Siswa di tuntut untuk terus belajar sesuai dengan tantangan masyarakat yang terus berubah.
Makna yang kedua, adalah dalam KBK menghargai bahwa setiap siswa memiliki kemampuan, minat,dan bakat yang berbeda. KBK memberikan peluang kepada setiap siswa untuk belajar sesuai dengan keberagaman dan kecepatan masing-masing. Oleh karena itu proses pembelajaran harus di desain agar dapat melayani setiap keberagaman tersebut. Misalnya dalam pemanfaatan sumber belajar (learning resources), KBK menuntut keragaman penggunaan sumber belajar secara optimal. Siswa dituntut untuk dapat menggunakan berbagai sumber informasi, yang tidak hanya mengandalkan dari mulut guru, akan tetapi dari sumber lainnya termasuk dari media elektronik semacam computer dan internet, Video, dan lain sebagainya.
Berdasarkan makna tersebut, maka KBK sebagai sebuah kurikulum memiliki tiga karakteristik utama.
1.      KBK memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa. Artinya melalui KBK diharapkan siswa memiliki kemampuan standar minimal yang harus dikuasai.
2.      Implementasi pembelajaran dalam KBK menekankan kepada proses pengalaman dengan memperhatikan keberagaman setiap individu. Pembelajaran tidak sekedar diarahkan untuk menguasai materi pembelajarn, akan tetapi bagaimana materi itu dapat menunjang dan mempengaruh kemampuan brfikir dan kemampuan bertindak sehari-hari.
3.      Evaluasi dalam KBK menekankan pada evaluasi sehingga mencapai standar kompetensi dilakukan secara utuh yang tidak hanya mengukuh aspek pengetahuan saja, akan tetapi sikap dan keterampilan.
Depdiknas (2002) mengemukakan karakteristik KBK secara lebih rinci sebagai berikut :
a.       Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun  
      klasikal.
b.  Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagamaan.
c.       Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d.      Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif.
e.    Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi
     Setelah kita memahami karakteristik KBK, maka sebenarnya apa yang ingin dicapai oleh kurikulum ini. Tujuan kurikulum Berbasis kompetensi adalah mengembangkan Potensi peserta didik untuk menghadapi perannya dimasa datang dengan mengembangkan sejumlah kecakapan hidup (life skill). Kecakapan hidup (life skill) adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapai problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.[4]



C. Implementasi KBK
Pelaksanaan atau implementasi KBK adalah sebagai proses penerapan ide, konsep, dan kebijakan kurikulum dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan.
Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) telah berjalan sejak tahun 2001 pada beberapa sekolah. Impelementasi KBK merupakan salah satu bagian penting untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyempurnan KBK baik dari aspek keterbacaan, keluasan, kedalaman, dan keterlaksanaannya di lapangan. Implementasi yang telah dilakukan tersebut meliputi beberapa prinsip yaitu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM); Penilaian Berbasis kelas; dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah.
1)      Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian berbasis kelas merupakan suatu kegiatan pengumpulan informasi tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan oleh guru yang bersangkutan sehingga penilaian tersebut akan “mengukur apa yang hendak diukur” dari siswa.
2)   Kegiatan Belajar Mengajar
      Kegiatan Belajar (KBM) merupakan proses aktif bagi siswa dan guru urituk mengembangkan potensi siswa sehingga mereka akan “tahu” terhadap pengetahuan dan pada akhirnya “mampu” untuk melakukan sesuatu.
3)  Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah Prinsip ini perlu diimplementasi untuk memberdayakan daerah dan sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengelola serta menilai pembelajaran sesuai dengan kondisi dan aspirasi mereka.
    Pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dalam garis besarnya mencakup kegiatan pokok, yaitu:
a.    Pengembangan program
b.    Pelaksanaan pembelajaran
c.    Evaluasi KBK[5]


D. Pengembangan kurikulum Berbasis kompetensi
1. Asas Pengembangan KBK
Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sebagai pedoman dan alat pendidikan bagi guru,didasarkan pada tiga asas pokok yaitu :
a). Asas Filosofis berkenaan dengan sistem nilai yang berlaku dimasyarakat. Sistem nilai erat     
    kaitannya dengan arah dan tujuan yang harus dicapai.
b). Asas psikologis berhubungan dengan aspek kejiwaan dan perkembangan peserta didik.   
      KBK harus didasarkan pada asas psikologis sebab:
(1). Secara psikologis anak didik memiliki perbedaan minat,bakat maupun potensi yang
      dimilikinya.
(2). Anak adalah organisme yang sedang berkembang.pada setiap tahapan perkembangannya
       mereka memiliki karakteristik dan ciri tertentu.
c). Asas sosialogis dan teknologis hal ini didasarkan pada asumsi bahwa sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar mereka dapat berperan aktif di masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum sebagai alat pedoman dalam proses pendidikan disekolah harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Dan masyarakat tidak bersifat statis, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat selalu mengalami perubahan, bergerak menuju perkembangan yang semakin kompleks.[6]
2. Prinsip-Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan KBK
Sesuai dengan asas-asas yang mendasarinya, Proses pengembangan KBK harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip. Setiap prinsip pengembangan dan pelaksanaan KBK seperti yang dirumuskan Depdiknas dalam kerangka dasar kurikulum 2004 dijelaskan dibawah ini.
a.Prinsip – Prinsip Pengembangan
Terdapat sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam proses pengembang Kurikulum Berbasis kompetensi yaitu :
1). Peningkatan keimanan,Budi pekerti luhur, dan penghayatan Nilai-nilai Budaya
2). Keseimbangan Etika, Logika,Estetika dan Kinestika
3). Penguatan Integritas Nasional
4). Pengembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi
5). Pengembangan Kecakapan Hidup
6). Pilar Pendidikan
7). Komprehensif dan Berkesinambungan
8). Belajar Sepanjang Hayat
9). Diversifikasi Kurikulum
b. Prinsip - Prinsip Pelaksanaan
Terdapat sejumlah Prinsip dalam Pengembangan KBK, yaitu
1).  Kesamaaan Memperoleh Kesempatan
Prinsip ini mengandung Pengertian, Bahwa melalui KBK penyediaan tempat yang memberdayakan semua peserta didik secara demokratis dan berkeadilan untuk memperoleh pengetahuan, Keterampilan dan sikap sangat diutamakan. Seluruh peserta didik dari berbagai kelompok seperti kelompok yang kurang beruntung secara ekonomi dab sosial, yang memerlukan bantuan khusus,berbakat, dan unggul berhak menerima pendidkan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya.
2). Berpusat pada anak
Upaya memandirikan Peserta didik untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri di utamakan agar peserta didik mampu membangun kemauan, pemahaman, dan pengetahuannya. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik perlu terus menerus di upayakan.
3). Pendekatan Menyeluruh dan Kemitraan
Pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pengalaman belajar berfokus pada kebutuhan peserta didik yang bervariasi dan mengintegrasikan sebagai disiplin ilmu.
4). Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam Pelaksanaan
Standar kompetensi disusun pusat dan cara pelaksanaannya sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing daerah atau sekolah dan madrasah. Standar kompetensi dapat di jadikan acuan penyusunan kurikulum yang berdiversifikasi berdasarkan pada satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik, serta taraf internasional.[7]
3. Implikasi KBK Terhadap Pengembangan Aspek Pembelajran
a. Pengembangan Rancangan Pembelajaran
pemberlakuan Undang – Undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah menuntut pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Undang – undang tersebut diikuti dengan perubahan peraturan pemerintah No.22 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintahan dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonomi dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Berdasarkan PP tersebut daerah memiliki kewenangan untuk mengembangkan silabus sesuai dengan kurikulum,keadaan sekolah, keadaan siswa serta kondisi sekolah. Oleh karena itu, salah satu implikasi dari KBK adalah adanya kewenangan bagi setiap daerah untuk mengembangkannya dalam bentuk rancangan pembelajaran seperti silabus sesuai dengan tujuan dan kondisi daearah.
Kegiatan pembelajaran dalam KBK diarahkan untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimilki oleh setiap individu. untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merancang kegiatan pembelajaran siswa antara lainnya:
·         Rancangan kegiatan pembelajaran hendaknya memberikan peluang bagi siswa untuk mencari,mengelola, dan menemukan sendiri pengetahuan.
·         Rancangan pembelajaran harus disesuai dengan ragam sumber belajar dan sarana belajar yang tersedia
·         Pembelajaran harus dirancang dengan mengombinasikan berbagai pendekatan misalnya pembelajaran klasikal, individual,pembelajaran kelompok.
·         Pembelajran harus dapat memberikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa seperti bakat, minat, kemampuan, latar belakang social ekonomi, budaya, dan lain sebagainya.
1). Komponen-komponen dalam silabus
Silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran,pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar. Dengan demikian, ada tiga hal yang harus tercakup dalam silabus yaitu, kompetensi yang harus dimilki siswa, strategi pencapainnya dan cara untuk mengetahui ketercapaian kompetensi yang telah ditentukan. Silabus juga dapat dipandang sebagai  suatu system, yang terdiri dari komponen-komponen yang satu sama lain saling berkaitan untuk mencapai tujuan tertentu. Komponen-komponen yang harus ada dalam silabus adalah sebagai berikiut : kompetensi dasar, hasil belajar, indicator, langkah pembelajaran, alokasi waktu, sarana dan sumber belajar dan penilaian. Komponen kompetensi dasar, hasil belajar dan indicator, para pengembang silabus dapat mengacu kepada kompetensi mata pelajaran yang telah ditentukan. Sedangkan komponen-komponen selanjutnya ditentukan oleh guru atau para pengembang silabus.
b. Pengembangan proses pembelajaran
1)  pembelajaran dalam konteks KBK
Sebagai kurikulum yang menekankan kepada pencapaian kompetensi, KBK juga memilki implikasi tertentu terhadap proses pembelajaran yang mesti dilakukan oleh guru dan siswa. Dalam konteks KBK, mengajar tidak diartikan sebagai proses penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa, yang menempatkan siswa sebagai objek belajar dan guru sebagi subjek, akan tetapi mengajar harus dipandang sebagai proses pengaturan lingkungan agar siswa belajar. Yang dimaksud dengan belajar itu sendiri bukanlah hanya sekedar menumpuk pengetahuan akan tetapi merupakan proses perubahan tingkah laku melalui pengalaman belajar, melalui pengalaman itulah diharapkan terjadinya pengembangan berbagai aspek yang terdapat dalam individu, seperti aspek minat, bakat,kemampuan,potensi, dan lain sebagainya.
Implikasi ini sangat penting artinya, sebab akan memengaruhi berbagai tindakan guru dalam pengelolaan pembelajaran, baik dalam pengembangan strategi pembelajaran termasuk dalam menggunakan metode pembelajaran maupun dalam penggunaan berbagai sumber belajar. Demikian juga dalam penggunaan sumber belajar, guru dituntut untuk terampil menggunakan dan memanfaatkan berbagai sumber belajar sesuai dengan pengembangan kompetensi yang diharapkan, baik sumber yang didesain untuk kepentingan pembelajaran(by design) maupun sumber belajar yang tidak didesain akan tetapi dapat dimnfaatkan(by utilization). Dengan demikian proses pembelajaran tidak semata-mata diarahkan agar siswa mampu menguasai sejumlah bahan atau materi pembelajaran melalui metode penuturan, kan tetapi pembelajaran sungguh-sungguh diarahkan agar siswa belajar secara aktif untuk menguasai kompetensi tertentu sesuai dengan kurikulum.
2) Prinsip – prinsip pembelajaran
(a) Berpusat kepada siswa
(b) Belajar dengan melakukan
(c) Mengembangkan kemampuan social
(d) Mengembangkan keingintahuan,imajinasi, dan fitrah
(e) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah
(f) Mengembangkan Kreativitas siswa
(g) Mengembangkan kemampuan menggunakan ilmu dan Teknologi
(h) Menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik
(i) Belajar sepanjang Hayat[8]

4. Pengembangan Evaluasi
a. Evaluasi sebagai proses pengambilan keputusan
penerapan KBK merupakan pembaharuan kurikulum sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan. Indicator terjadinya pembaruan itu dapat dilihat dari adanya pola perubahan dalam proses pembelajaran serta adanya peningkatan hasil belajar baik secara kualitas maupun kuantitas. Perubahan dalam proses pembelajarana akan diikuti oleh perubahan pola evaluasi, oleh karena itulah penerapan KBK berimplikasi juga pada perubahan praktik pelaksanaan evaluasi pembelajaran.
Evaluasi merupakan suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan bias orang,benda,kegiatan,keadaan atau suatu kesatuan tertentu. Dari konsep tersebut ada dua hal yang menjadi karakteristik evaluasi. Pertama, evaluasi merupakan suatu proses atau tindakan; kedua, proses tersebut dilakuka untuk member makna atau nilai.
Sebagai suatu proses, evaluasi terdiri dari dua langkah pokok sebagai berikut:
·         Pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar siswa
·         Pembuatan keputusan tentang hasil belajar siswa berdasarkan informasi yang diperoleh
Dalam KBK, pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar siswa,bisa dilakukan secara formal atau tidak formal; di dalam atau diluar kelas; bias menggunakan tes atau non tes atau terintegrasi dalam proses pembelajaran. Teknik apapun bias dilakukan,yang penting proses evaluasi dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa memperoleh kompetensi tertentu.
b. Aspek-aspek Evaluasi
seperti yang telah dijelaskan dibagian terdahulu, dalam konteks KBK hasil belajar tidak terbatas pada aspek kognitif, akan tetapi juga mencakup hasil belajar dalam aspek sikap afektif dan keterampilan psikomotorik. Ketiga aspek ini harus di evaluasi secara seimbang. kriteria keberhasilan pembelajaran harus dilihat dari perkembangan ketiga aspek diatas. kriteria keberhasilan belajar siswa yang hanya menekankan kepada aspek kognitif saja, dapat memengaruhi proses dan kualitas pembelajaran.
c. Alat dan Fungsi Evaluasi
sebagaimana sasaran evaluasi yang bukan hanya mengukur aspek kognitif siswa akan tetapi sikap dan keterampilan, maka alat evaluasi yang dapat digunakan adalah tes dan non tes. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif dan keterampilan, sedangkan non tes digunakan untuk mengukur sikap siswa. Tes bisa berbebntuk tes tertulis atau tes lisan dan perbuatan, sedangkan non tes bias digunakan dengan wawancara atau skala penilaian.
Sebagai bentuk kurikulum yang menghendaki ketercapaian kompetensi, aspek, alat, dan bentuk penilaina seperti diatas harus dilakukan secara seimabang dengan mengacu kepada fungsi evaluasi, yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif. Hasil evaluasi formatif digunakan untuk memperbaiki kinerja guru, artinya hasil dari tes ini digunakan sebagai umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Hasil evaluasi sumatif digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa setelah melakukan proses pembelajaran. Dengan demikian sesuai dengan fungsinya evaluasi dilakukan untuk mengukur keberhasilan proses dan hasil belajar.
Kedua fungsi evaluasi ini sangat penting, artinya sebagai implikasi dari penerapan KBK. Melalui evaluasi formatif, guru akan selalu memperbaiki kinerjanya sehingga kualitas proses pembelajaran selamanya akan meningkat. Sedangkan melalui evaluasi sumatif, guru dapat mengukur keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang diharapakan sehingga dapat ditentukan kedudukan dan prestasi setiap siswa dalam kelompok belajarnya.[9]





BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.
Adapun karakteristik KBK menurut Depdiknas (2002) adalah sebagai berikut:
·      Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupu klasikal.
·      Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
·      Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
·      Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
·      Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Impelementasi KBK merupakan salah satu bagian penting untuk mendapatkan masukan dalam rangka penyempurnan KBK baik dari aspek keterbacaan, keluasan, kedalaman, dan keterlaksanaannya di lapangan. Implementasi yang telah dilakukan tersebut meliputi beberapa prinsip yaitu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM); Penilaian Berbasis kelas; dan Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah.
Pengembangan kurikulum Berbasis kompetensi meliputi :
·         Asas Pengembangan KBK
·         Prinsip-Prinsip Pengembangan dan Pelaksanaan KBK
·          Implikasi KBK Terhadap Pengembangan Aspek Pembelajran
·         Pengembangan Evaluas
DAFTAR PUSTAKA

-          Asep Herry Hernawan,dkk.2007.Pengembangan kurikulum dan pembelajaran.jakarta : Universitas Terbuka.
-       Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Dan Implementas, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
-       Masnur Muslich.2008.KTSP Pembelajaran berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta : PT Bumi Aksara.
-       Hamzah B.uno.2007.Perencanaan pembelajaran.jakarta :PT Bumi Aksara.
-       Dr.Wina Sanjaya,M.Pd.2005.Pembelajaran dalam implementasi Kurikulum berbasis kompetensi. Jakarta : kencana Prenada Media Group.



[1] Asep Herry Hernawan,dkk.2007.Pengembangan kurikulum dan pembelajaran.jakarta : Universitas Terbuka.(hal:7.9)
[2] Masnur Muslich.2008.KTSP Pembelajaran berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta : PT Bumi Aksara (hal:17)
[3] Hamzah B.uno.2007.Perencanaan pembelajaran.jakarta :PT Bumi Aksara. (hal:122)

[4] Dr.Wina Sanjaya,M.Pd.2005.Pembelajaran dalam implementasi Kurikulum berbasis kompetensi. Jakarta : kencana Prenada Media Group. (hal: 10-12)
[5] Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Dan Implementas, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

[6] Ibid. hal (17-19)
[7]  Ibid. hal (22-27)
[8] Ibid. hal(25-32)
[9] Ibid. hal(33-36)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar